Kok bisa ya? Tapi ya gitu lah. Ga penting juga. 😂
Semoga bermanfaat. Yang nggak bagus jangan ditiru, dan silahkan tegur.
"Manusiawi" Jadi Alasan Berbuat Maksiat?
"..'kan manusiawi..."Banyak kelalaian yang memang itu manusia.
Tapi, bukan berarti kemanusiaan menafikan wahyu.
Tetep aja, wahyu yang mengatur keputusan, bukan hawa nafsu.
Di sisi lain, memang iya sih... Wahyu tidak membuat manusia menafikan kemanusiaan seperti:
- bisa lapar
- ngantuk
- cinta
- euforia
- marah
- sedih
- dan lain sebaginya.
Itu semua tetep bisa didapatkan, tapi dengan ATURAN TERTENTU. Itu lah CIRI KHAS MUSLIM.
- Cinta? Bisa nikah. Tapi bukan zina.
- Duit? Bisa kerja atau jualan. Tapi bukan maling.
- Lapar? Bisa makan nasi. Tapi jangan babi.
- Sedih? Bisa tangisi maksiat-maksiat. Tapi bukan tangisi tan-tan. (Tan-tan itu apa? Tan-tan itu mantan & gebetan 😜 . No offense, ini contoh realita yang banyak aja)
- Marah? Bisa, tapi dala rangka membela Islam, kayak Umar. Bukan karena emosi jalanan macet.
Jangan kayak orang liberal. Kayak yang dikritik Alm KH Zainudin MZ itu lho.
"Di mana-mana, kayu ikut meteran. Kalau kayunya kepanjangan, kayu yang dipotong.
Tapi kalau kayunya kependekan, kok malah meteran yang dipotong, maka tidak ada meteran di dunia ini."
Islam itu dijadiin kayak gerbong kereta api terdepan. Yang lain ngikut gerbong terdepan aja mau lurus/kiri/kanan/berhenti/lanjutnya gimana InsyaAllah barokaah....
Bisa Jadi Anda Cuma "PUAS", Bukan "BAHAGIA"! Ini Bedanya
- Masuk PTN favorit
- Kelar skripsi
- Wisuda
- Punya penghasilan
- Nikah
- Punya anak
- Cicilan lunas
- Punya Rumah
- Punya mobil
- Makan makanan enak
- Beli barang baru lainnya.
Ini namanya KEPUASAN, bukan kebahagiaan.
Memang sih, wajib disyukuri, baru jadi bahagia.
Tapi, jangan asal-asal menafsirkan kata "syukur".
Kalau menurut Imam Ibnu Qayiim.
“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).
Coba perhatikan, ada 3 poin penting di sini.
Atau, bentuk perbuatannya direduksi hanya sekadar "traktir makan".
Meski bukan berarti itu nggak bagus yaa. Bagus-bagus aja. Cuman, "traktir makan" itu bukan prioritas utama. Karena statusnya sunnah.
Setidaknya itu bagi kebanyakan orang.
Karena, sebetulnya yang lebih tepat bentuk "perbuatan" bukti syukur itu bukan sekadar traktir makan, tapi:
Yang wajib-wajib itu lebih prioritas.
Ini, bentuk syukur berupa taqwa yang barangkali kelewat.
Maka dari itu, tidak heran, banyak ulama yang menjelaskan definisi bahagia adalah, kurang-lebih, tatkala kita mendapatkan ridha Allah.
Sebagaimana misalnya, salah satunya, definisi bahagia menurut Syaikh Taqiyuddin anNabhani adalah: "Arti kebahagiaan dalam pandangan aqidah Islam adalah, mendapatkan ridha Allah Swt."
Nah, di siniah relevansinya antara:
Memang sih, wajib disyukuri, baru jadi bahagia.
Tapi, jangan asal-asal menafsirkan kata "syukur".
Kalau menurut Imam Ibnu Qayiim.
الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة
“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).
Coba perhatikan, ada 3 poin penting di sini.
- Dengan lisan.
- Dengan hati.
- Dengan perbuatan taqwa.
Atau, bentuk perbuatannya direduksi hanya sekadar "traktir makan".
Meski bukan berarti itu nggak bagus yaa. Bagus-bagus aja. Cuman, "traktir makan" itu bukan prioritas utama. Karena statusnya sunnah.
Setidaknya itu bagi kebanyakan orang.
Karena, sebetulnya yang lebih tepat bentuk "perbuatan" bukti syukur itu bukan sekadar traktir makan, tapi:
- Yang sholatnya masih bolong-bolong atau belum bagus, perbaikilah.
- Yang belum menutup aurat, tutuplah.
- Yang masih pacaran, putuslah atau menikah.
- Yang masih bertransaksi ribawi, hentikanlah.
- Yang masih malas belajar Islam, belajarlah.
- Dan sebagainya...
Yang wajib-wajib itu lebih prioritas.
Ini, bentuk syukur berupa taqwa yang barangkali kelewat.
Maka dari itu, tidak heran, banyak ulama yang menjelaskan definisi bahagia adalah, kurang-lebih, tatkala kita mendapatkan ridha Allah.
Sebagaimana misalnya, salah satunya, definisi bahagia menurut Syaikh Taqiyuddin anNabhani adalah: "Arti kebahagiaan dalam pandangan aqidah Islam adalah, mendapatkan ridha Allah Swt."
Nah, di siniah relevansinya antara:
- Bahagia
- Syukur
- Taqwa 🙂
Menilai Seseorang dari Akun Social Medianya?
Menilai Seseorang dari Akun Social Medianya?
Ada orang yang beranggapan, bahwa konten-konten di akun social media seseorang itu mencerminkan 100% dirinya. Ada juga orang yang beranggapan, konten-konten di akun social media seseorang itu tidak mencerminkan dirinya yang sebenarnya. Nyaris 0%. Maka baiknya lihatlah fakta dirinya di dunia nyata. Kalau pendapat saya pribadi, kedua pendapat
Dakwahlah Tentang Tauhid, Ibadah, Akhlak, & Muamalah. Kenapa Harus Didikotomi?
Dakwahlah Tentang Tauhid, Ibadah, Akhlak, & Muamalah. Kenapa Harus Didikotomi?
Ilustrasi tentang dakwah, via: https://www.instagram.com/yukngajiid/ Terkadang orang-orang pada ribut, ada masalah yang terjadi bukan karena belum ada solusinya ataupun sulit mendapatkan solusinya. Melainkan karena sekadar melakukan "hal-hal kurang kerjaan" 😖 , yang sebenarnya kalau "hal-hal tersebut" tidak dilakukan, maka tidak akan menimbulkan masalah. 😅 Termasuk salah satunya, ada oknum
Kenapa Kok Bawaannya Malas Banget Ya Sholat Berjamaah di Masjid?
Kenapa Kok Bawaannya Malas Banget Ya Sholat Berjamaah di Masjid?
"Ntah kenapa aku kok kayak pusing gitu susah kalau jalan sholat ke Masjid..." begitu kurang-lebih kata salah seorang teman diskusi kami saat sedang membahas keutamaan sholat berjamaah di Masjid. Ah, ngeles. Sebenarnya malas aja ya kan. 😛 Sulit mengatakan bahwa sholat berjamaah ke Masjid termasuk salah satu penyebab
Berdebat Itu Boleh, Tapi 'Sayangnya' Zaman Sekarang yang Layak Berdebat Itu Tidak Banyak
Berdebat Itu Boleh, Tapi 'Sayangnya' Zaman Sekarang yang Layak Berdebat Itu Tidak Banyak
Anda pasti pernah berjumpa dengan seseorang yang memiliki perbedaan pendapat dengan Anda, kemudian Anda berdebat dengan dia? Atau mungkin, bukan berdebat, tapi sekadar berdiskusi? Atau mungkin sih juga bukan diskusi, tapi hanya sekadar ngobrol-ngobrol saja? Apapun istilah yang digunakan, saya pernah seperti itu. Menjelaskan apa pendapat saya, dan
Saya InsyaAllah Nggak Lupa dengan Seseorang, Paling Lupa Namanya 😂
Saya InsyaAllah Nggak Lupa dengan Seseorang, Paling Lupa Namanya 😂
Belakangan ada beberapa teman saya yang nge-chat ke saya, "Dan, masih ingat aku?", "Dan, masih ingat saya?", dan sebagainya. Alhamdulillah saya masih ingat lah. Nggak lupa. Yang satu itu teman SD saya. Yang satunya lagi teman sekontrakan saya waktu di Bandung. Belakangan juga ada sebuah postingan meme saat
Silahkan Diskusi dengan Argumentasi, Jangan Sekadar Ejek-Ejekan
Silahkan Diskusi dengan Argumentasi, Jangan Sekadar Ejek-Ejekan
Yang namanya perbedaan pendapat itu biasa. Apalagi persoalan politik dan agama. Maka, kalau kita bertemu dengan seseorang yang berbeda pandangan politiknya dengan orang lain; yah silahkan saja 'duduk bareng' diskusi memaparkan pandangan masing-masing. Barangkali bisa sekadar berbagi insight, tanpa harus memaksa lawan bicara untuk mengadopsi 100% pendapat kita.
Nggak Usah Capek-Capek Dakwah, Tungguin Imam Mahdi Turun Saja Mengatasi Berbagai Kemunkaran?
Nggak Usah Capek-Capek Dakwah, Tungguin Imam Mahdi Turun Saja Mengatasi Berbagai Kemunkaran?
Ilustrasi via Instagram @CintaBenderaIslam Pernahkah Anda menyaksikan ataupun mendengarkan seseorang yang dia membahas berbagai macam fakta masalah kemunkaran-kemunkaran seperti misalnya masalah kriminalitas, penjajahan, pajak, riba yang tersistem besar, pembantaian umat muslim, dan berbagai macam masalah besar lainnya; kemudian di akhir pembahasannya dia mengatakan kurang-lebih, "Yaa begitulah makanya nanti
Semua Kepala Negara Itu Boleh Diapresiasi dan Boleh Juga Dikritik, Tidak Bisa Ada yang Anti-Kritik
Semua Kepala Negara Itu Boleh Diapresiasi dan Boleh Juga Dikritik, Tidak Bisa Ada yang Anti-Kritik
Sumber ilustrasi: Pixabay.com Saya kira kita semua sudah paham, betapa anehnya kelakuan orang-orang pendukung Pak Jokowi dan Pak Ahok. Banyak pakar yang memberikan kritik atas kebijakan-kebijakan keliru Pak Jokowi dan Pak Ahok tersebut, namun mereka menyanggah kritik tersebut. Mereka mengatakan kebijakan tersebut tidaklah salah, justru hal tersebut merupakan
Walau Kita Bukan Orang Aceh, Jakarta, Aleppo, Dll; Kita Tetap Wajib Peduli Masalah di Sana Selama Itu Persoalan Kaum Muslimin!
Walau Kita Bukan Orang Aceh, Jakarta, Aleppo, Dll; Kita Tetap Wajib Peduli Masalah di Sana Selama Itu Persoalan Kaum Muslimin!
Kadang ada kaum nyinyiriyyun, yang senang banget nyinyir bila seseorang khususnya muslim yang menunjukkan kepeduliannya pada persoalan di luar wilayahnya. Seperti misalnya: Peduli persoalan Pilgub DKI Jakarta Peduli kekacauan di Suriah Peduli kekacauan di Burma Peduli kekacauan di Palestin Dan sebagainya... Katanya: "Padahal KTP Bogor, bukan DKI, ngapain
Langganan:
Postingan
(
Atom
)