4 min Reading
Saat-saat bulan Ramadhan seperti ini, biasanya sebagian anak kost-kostan yang juga biasanya merupakan mahasiswa, menjadi PPT..
Apa itu PPT?
PowerPoint Presentations?
Bukan..
PPT itu, Para Pencari Ta'jil, hehehe...
Kemarin, saya ketemu dengan seorang PPT yang berkata, "Alhamdulillah hari ini nggak ada pengeluaran.." pengeluaran uang maksudnya. Begitu kurang-lebih.. Lantaran dia sudah kekenyangan karena ta'jil yang ia santap, secara gratis..
Menyenangkan memang. Bagi anak kost, khususnya mahasiswa, kebanyakan yang gratis itu rasanya enak. Meski kadang belum tentu juga enak di lidah, hehehe..
Saya pun juga merasa begitu awalnya. Saya merasa senang bila dalam satu hari pengeluaran saya minim, seperti misalnya tidak sampai Rp10.000 per hari. Hanya Rp8.000, atau Rp7.000, atau bahkan Rp5.000. Apalagi kalau pengaluaran per hari saya tidak ada, alias nol. Senang rasanya.
Namun, beberapa saat kemudian, saya jadi kurang senang kalau pengeluaran saya sedikit.. Hmm.. anti-mainstream nih..
Biarin..
Saya pikir setidaknya setiap orang harus seperti saya gitu juga, justru merasa kurang menyenangkan kalau pengeluaran per hari hanya sedikit.
Mengapa?
Karena, bisa jadi itu bentuk dari kelalaian. Iya, kelalaian, karena kita melewatkan kesempatan untuk bersedekah!
Maka dari itu, justru sebaliknya. Barangkali seharusnya kita bersedih bila pengeluaran per hari kita sedikit. Kita pertanyakan, kalau pengeluaran sedikit, berarti sedekahnya sedikit dong..?? Atau jangan-jangan tidak ada sedekah..??
Dasar yang paling perlu diingat adalah, hukum asal perbuatan kita harus terikat dengan hukum syara'. Kita harus mengutamakan hal yang wajib, kemudian sunnah. Soal yang mubah, terserah. Yang makruh sebaiknya jangan. Dan yang haram harus ditinggalkan.
Nah, terkait alokasi harta.. haruslah kita mengutamakan alokasi harta yang wajib dan sunnah. Soal yang mubah itu terserah. Yang makruh sebaiknya nggak usah. Dan yang haram, jangan.
Contohnya:
- Pengeluaran yang wajib, yaitu nafkah dan zakat.
- Pengeluaran yang sunah, yaitu sedekah.
- Pengluaran yang mubah, yaitu belanja kebutuhan hidup.
- Pengeluaran yang makruh, yaitu boros (idha'atul maal).
- Pengeluaran yang haram, yaitu riswah, tabdzir, taraf, taqtir, dan israf.
Btw, ini baru soal pengeluaran dalam artian infaqul maal yaa.. Belum bahas pengembangan harta (tanmiyatul milkiyah) seperti investasi, dan sebagainya..
Begitulah..
Jadi, intinya, janganlah kita bangga, bila pengeluaran per hari kita sedikit. Dan jangan pula sedih bila pengeluaran per hari kita banyak. Bukan soal dikit-banyaknya pengeluaran yang membuat kita sedih atau senang.
Tapi, yang membuat kita senang atau sedih adalah, apakah uang kita itu kita keluarkan untuk perkara bermanfaat atau tidak, terlepas sedikit atau banyak.
Kita senang, bila uang yang kita miliki akhirnya kita keluarkan untuk sedekah. Ntah itu hanya Rp2.000, ataupun Rp50.000.
Kita sedih, bila uang yang kita miliki akhirnya kita keluarkan untuk ngemil snack, seharga Rp50.000, sementara barusan kotak infaq lewat tapi hanya memasukkan Rp2.000. Atau bahkan hanya lewat, tidak memasukkan apa-apa...
Itu masih mending buat yang mubah. Lebih sedih lagi kalau buat yang makruh, apalagi yang haram. Seperti buat beli rokok, atau yang parah buat beli miras.
Yah, itulah kesimpulannya. Sekali lagi, bukan soal dikit-banyaknya pengeluaran yang membuat kita sedih atau senang. Yang membuat kita sedih atau senang adalah, apakah uang kita kita keluarkan untuk perkara yang tidak bermanfaat maupun kurang bermanfaat, atau untuk hal bermanfaat dan kebaikan, terlepas sedikit atau banyak nominalnya..
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:لا يَزُولُ قَدْمَ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْألَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أفْنَاهُ، وَشَبَابِهِ فِيمَا أبْلاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أيْنَ كَسَبَهُ وَفِيمَا أنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ؟
"Kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum beranjak di sisi Tuhannya sebelum ditanya mengenai lima perkara: tentang umurnya, apa yang telah dilakukannya? Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya? Dan untuk apa dibelanjakannya? Tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu?”
[HR. Ahmad dan At-Tabrani]
والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”
[HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614]
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”
[QS. Al A’raf: 99]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:
رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”
[HR. Bukhari]
Wallahua'lam bishshawab..إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”
[QS. Al Hadid: 18]